Dari Balai Pelatihan Ke Agroedutainment

Posted on Updated on

Ilustrasi (Istimewa)

Meski berstatus sebagai balai latihan, BBPP Lembang juga mulai memasukkan konsep agrowisata. Menjadi Balai latihan Umum (BLU) atau semi BLU dirasa lebih tepat.

Berdiri sejak 1962, balai ini awalnya bernama Pusat Latihan Pertanian milik Pemda Jawa Barat. Kemudian, lewat Permentan No. 15/2007, berubah menjadi Balai Besar Pelatihan Pertanian Lembang.

Beberapa jenis kegiatan di balai ini antara lain pelatihan teknis di bidang pertanian bagi aparatur pertanian, pelatihan kewirausahaan di bidang pertanian bagi non- aparatur, pengembangan usaha tani dan kerjasama kemitraan dengan berbagai pihak, dalam dan luar negeri.

Sebagai contoh, saat ini BBPP Lembang membina dan menjalin kemitraan dengan asosiasi petani sayur Bandung, yang memiliki anggota di Kabupaten Bandung dan Bandung Barat.

Menggunakan metode berlatih ELC (experiental learning cycle), dengan kombinasi magang, problem solving, praktek lapangan, sarana praktek di BBPP Lembang ditunjang kebun praktek seluas 1,5 ha, viny/house/screen house yang ditanami berbagai jenis sayuran dan buah, pertanian hydroponic, fasilitas ruang penanganan pasca-panen, laboratorium pengolahan hasil pertanian dan laboratorium pembibitan kultur jaringan.

BBPP Lembang didukung 139 staf, terdiri dari pejabat struktural, staf dan widyaaswara dengan keahlian penyuluhan pertanian, sosial ekonomi pertanian, budidaya pertanian dan pasca-panen dan pengolahan hasil pertanian.

Ir. Bandel Hartopo, M.Sc, Kepala BBPP Lembang mengatakan, sebagai instansi yang menjadi Unit Pelaksana Teknis Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementerian Pertanian, pelatihan yang dilakukan di tempat ini 70 %-nya langsung praktek lapangan.

Karena BBPP Lembang berada di sentra produksi sayuran dan tanaman hias serta terletak di ketinggian sekitar 1200 meter dari permukaan laut dengan curah hujan mencapai hingga 400 mm per bulan dengan kelembaban nisbi hingga 89 persen, maka kiranya cocok bila konsep argowitasa mulai diterapkan di sini.

Menurut Bandel yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Kepala Balai Pelatihan Pertanian Jambi (2000-2010) dan Kepala Balai Besar Pelatihan Pertanian Batangkaluku Makassar ini, ke depannya, instansinya akan mengarak kepada konsep Agroedutaintment.

“Kami ingin menggabungkan edukasi dan wisatanya, sehingga semakin menarik minat berbagai kalangan, tidak hanya petani semata, untuk datang ke sini.”

Konsep tersebut akan menggabungkan penataan lahan berkontur yang dirancang secara professional, artistik yang akan mengundang daya tarik masyarakat sebagai wahana pembelajaran dan hiburan.

Bagi alumni Fakultas Pertanian Universitas Andalas Padang Jurusan Hama Penyakit ini, BBPP adalah sarana pengabdian bagi dia untuk mendukung program pemerintah dalam mencapai swasembada pangan.

“Itu prioritas. Namun, selain itu, yang berikut, petani harus bisa mengekspor hasil pertanian ke luar negeri. Nah, saya ingin melihat petani yang pernah kami bantu memperdalam pengetahuan pertaniannya di instansi ini bisa go international,” jelas dia.

Berdasarkan pengalamannya dari beberapa kunjungannya ke luar negeri, satu hal yang paling penting adalah melatih etos kerja petani agar jadi pekerja keras. “Kami juga melatih petani untuk bisa merencanakan, melaksanakan dan membuat evaluasi dari proses pertanian yang mereka jalankan. Banyak petani kita masih berkutat dalam cara konvensional, sehingga kurang cermat menghitung hasil akhir. Jadi tidak maksimal produksinya,” jelas Bandel.

Bandel berharap agar instansinya bisa menjadi sumber inovasi dalam proses pertanian yang modern. “ Kami siap membantu bagi siapapun yang datang ke sini untuk belajar pertanian modern. Staf kami juga siap bisa memberi supervisi keluar, ke berbagai daerah, bila diminta. Hal ini pernah kami lakukan, misalnya ke Kupang, NTT, ungkap alumni Program Pascasarjana (S2)University of Agriculture Sciences di Banglore, India ini pula.

Sebelumnya, saat melepas peserta lokakarya Revolusi Benih untuk Ketahanan Pangan di Gedung Kementrian Pertanian, Jakarta Selatan pada Kamis (12/10) kemarin, Ketua Umum DPP MPPI yang juga Ketua Komisi VII DPR RI Herman Khaeron mengatakan, untuk menuju kedaulatan energi dan pangan, setiap instansi dan stake holder harus melepas ego sektoralnya.

Dalam kaitan dengan pertanian, ada lima aspek yang perlu diperdalam dan terus ditingkatkan oleh dunia pertanian Indonesia, yaitu aspek lahan, air, pengetahuan benih, pupuk, dan cara penanaman yang benar. “Pertanian kita harus memegang prinsip pembangunan yang berkelanjutan (sustainable), karena tanpa itu, peradaban akan berhenti,” jelas dia.

Sebelumnya, dalam perjalanan ke Lembang, peserta lokakarya diberi kesempatan mengunjungi PT. East West Seed Indonesia (EWINDO), salah satu produsen benih hortikultura yang meneliti, mengembangkan, memproduksi dan memasarkan benih sayuran tropis dengan merek dagang Panah Merah.

“Masyarakat sudah harus tahu, bahwa benih varietas unggul dapat meningkatkan produksi pertanian berkali-kali lipat. Sayangnya, hingga saat ini, masih banyak masyarakat yang justru menaruh curiga kepada benih varietas unggul,” ujar Afrizal Gindow, Sales and Marketing Director Est West.

Para peserta, di sela-sela lokakarya di Lembang, juga diajak melihat proses pembenihan hingga pemasaran, mengunjungi pembenihan sapi unggul, dan bertatap muka dengan petani teladan hasil binaan BBPP Lembang. (Gerard da Silva)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s