Indonesia Garap Diplomasi Produk Berkelanjutan

Posted on Updated on

copy-of-bayu-krisnamurthi-das
Bayu Krishnamurti (Foto, Dadang Subur)

BussIns, Jakarta—Diplomasi sering bekerja dalam senyap, padahal dampaknya–berhasil atau tidak–sering sangat luas. Hal itu juga yang akan dilakukan beberapa diplomat ekonomi dari Kementerian Perdagangan dan Kementerian Luar Negeri Indonesia di Vietnam tahun ini, dimulai dengan pertemuan di Na Trang Vietnam 22-23 Februari 2017 minggu depan.

“Didukung oleh beberapa pakar dari IPB, Indonesia tengah meneruskan diplomasi penting soal development products di forum APEC,” kata Bayu Krisnamurthi, dosen agribisnis IPB, di Jakarta kemarin.

Development products (devpro) adalah sebutan untuk produk-produk yang berkontribusi pada pertumbuhan yang berkelanjutan dan inklusif melalui pembangunan pedesaan dan pengurangan kemiskinan (RDPA/rural development and proverty alleviation).

Intinya, devpro adalah kategori produk yang dalam proses produksi dan perdagangannya berdampak luas bagi pendapatan kelompok miskin, petani dan nelayan kecil, dan masyarakat pedesaan. Sehingga jika perdagangan produk-produk itu ditingkatkan akan berdampak positif bagi peningkatan sosial ekonomi masyarakat; dan sebaliknya, jika dihambat akan berdampak buruk bagi kesejahteraan kelompok masyarakat tersebut.

Usulan mengenai perlunya kebijakan yang promotif terhadap perdagangan devpro di antara negara APEC diajukan Indonesia pada pertemuan para pemimpin APEC tahun 2013 di Bali, dan terus dibahas di pertemuan APEC berikutnya 2014 di Beijing, 2015 di Manila dan 2016 di Lima, Peru.

“Sayangnya hingga saat ini belum banyak kemajuan material dari rangkaian perundingan ini, dan perjuangan diplomasi itu akan dilanjutkan di forum APEC yang tahun 2017 ini dilaksanakan dengan Vietnam sebagai tuan rumah,” Bayu berkata.

Saat ini 7%-20% penduduk negara-negara maju (developed economies) APEC dan 20%-60% penduduk negara-negara sedang berkembang (developed economies) APEC tinggal di pedesaan. Di Papua Nugini bahkan 87% penduduknya adalah penduduk pedesaan dan di Veitnam angka itu mencapai 67%. Di sisi lain, sebagian besar penduduk miskin di dunia tinggal di pedesaan, bahkan pada beberapa negara APEC 80% penduduk miskinnya tinggal di pedesaan.

Berbagai kajian telah menunjukkan bahwa perdagangan, baik domestik dan internasional, memiliki dampak nyata terhadap pengurangan kemiskinan dan pembangunan pedesaan (RDPA).

”Dampak tersebut dapat bersifat positif (mengurangi kemiskinan, mendorong kemajuan) tetapi juga dapat berupa ancaman (kalah bersaing, hilangnya pangsa pasar). Namun dampak netto perdagangan terhadap RDPA cenderung selalu positif,” kata Bayu lagi. (Das)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s