Posted on Updated on

Sosok di Balik “Revolusi Kopi” Indonesia

Irfan Anwar 2---ist
Irfan Anwar (Foto, Istimewa)

Irfan Anwar terus menggaungkan pentingnya Revolusi Kopi. Seperti apa sebenarnya visi tokoh puncak Asosiasi Eksportir dan Industri kopi Indonesia (AEKI) periode 2016-2021 ini?

 

“Ini waktunya Revolusi Kopi, Bung!” Demikianlah mungkin Irfan Anwar menjawab, tatkala wartawan menanyakan pendapatnya tentang kopi di Indonesia. Bagaimana ceritanya? Begini, sebagai ketua umum, ia ingin agar Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEIKI) melakukan revolusi di keseluruhan sektor. “Tujuan akhirnya yakni memberi nilai manfaat besar bagi kesejahteraan petani. Juga, memberi manfaat ke bangsa dan negara,” kata dia.

Ketua umum AEKI periode 2016-2021 ini berkata, organisasi itu telah berusia 39 tahun. Usia tersebut sudah tentu mesti mencerminkan kematangan, dan oleh karenanya revolusi itu mesti digelindingkan.
Ada banyak keuntungan bila revolusi itu muncul. Antara lain, solidnya AEKI dan menjadi wadah tunggal pelaku industri perkopian sedari hulu sampai hilir, tentu meringankan rintangan seberat apa pun. Selanjutnya, program-program berkesinambungan, fokus, dan terukur, digarap bersama. Dari situ, sebuah efek sangat besar tentu lahir.

AEKI-lah asosiasi pertama dalam perkopian di Tanah Air ini. Dari sejarahnya, tujuan AEKI sangat gamblang, yakni menyejahterakan semua pemangku kepentingan perkopian. Itu mencakup petani rakyat, industri dalam negeri, dan para eksportir.

“Silakan saja ada asosiasi lain dalam perkopian nasional, akan tetapi AEKI harus menjadi induk dari organisasi lainnya, AEKI harus solid, kuat baik itu di tingkat nasional maupun regional serta Internasional,” papar Irfan.

Kini, AEKI punya 10 dewan perwakilan daerah (DPD) yang tersebar di seluruh Indonesia, yaitu: Sulawesi, Sumatera Utara, Aceh, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Papua, Nusa Tenggara, Jawa Timur, Jawa Barat, Bali. Ada pun jumlah anggota AEKI sebanyak 320 dan terdiri dari eksportir,
petani/perkebunan, serta industri perorangan atau institusi.

Baru-baru ini, Pemerintah Indonesia menyatakan bakal menggerojokkan dana Rp 5,9 triliun dalam bentuk KUT (Kredit Usaha Tani). Itu dari nilai terendah Rp 5 juta sampai Rp 25 juta per petani. Nah, dana ini dapat dimanfaatkan sebagai pengembangan, perawatan, dan replanting tanaman yang sudah tua ataupun tanaman yang kurang produktif.

Lanjutan dari itu, Pemerintah Indonesia via Kementerian Pertanian RI akan memberikan bibit unggul bersertifikat. Pula, Kementerian Pertanian bakal kembali menghidupkan tenaga pendamping, tenaga ahli, tenaga lapangan, di setiap daerah. Usia program ini sudah 10 tahun lebih dan sempat dihapuskan di periode pemerintahan sebelumnya. “Dihidupkannya lagi program itu adalah salah satu perjuangan dari AEKI,” kata Irfan bersemangat.

Dengan semua itu, Revolusi AEKI wajib bin mesti dilakukan. Bila tidak, apa akibatnya? “Kita akan tergilas oleh jaman. Revolusi di sini tidak ada implikasi dengan politik. Kita adalah organisasi bisnis,” kata dia.

Seorang tokoh puncak organisasi bisnis tentu harus visioner. Bagaimana Irfan meneropong masa depan industri ini? Kembali, ia bercerita panjang-lebar. Situasi semakin mengglobal. Bayangkan, tahun 2016 ini saja, Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sudah berlaku. Lantas, sebentar lagi Asean Free Trade Area (AFTA) akan juga berlaku.

 

Arus investasi ke dalam negeri sudah dengan mudahnya masuk dengan berbagai fasilitas yang diberikan oleh pemerintah. Seharusnya, pemerintah jangan memberikan 100% asing masuk ke dalam negeri secara total, akan tetapi jika berinvestasi tidak masalah.

Jika 100% diberikan kepada asing, tentu pengusaha lokal akan pontang-panting dan sekarat. Musabab hal itu, pengusaha lokal kita tidak padat modal, teknologi, apalagi menguasai pasar. Jadi ini harus dipertimbangkan pula pemerintah. Seharusnya investasi asing tersebut harus bermitra dengan pengusaha lokal agar adil.

Ia sangat kuatir dan miris dengan regulasi yang dicanangkan pemerintah dalam hal investasi asing. Saat ini pun, sudah ada pukulan berat dominasi investasi asing tersebut. Di industri kelapa sawit, hampir sebagian besar milik asing. Dalam hal ini, milik lokal paling sekitar 10%. Sudah begitu, seluruh lahan pertanian sudah dikuasai asing, perusahaan sawit asing menguasai lahan ratusan bahkan jutaan hektar. “Lantas di mana lagi pengusaha lokal ingin bertani, berkebun, seluruhnya sudah dikuasai asing?” ia beretorika.

Tak ayal, AEKI harus menggelindingkan revolusi tersebut. Revolusi tersebut akan inovatif dan sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan, baik itu pelaku perkopian, pemerintah, perguruan tinggi, serta pihak lainnya. AEKI akan back to basic, bakal memerkuat potensi di dalam negeri. AEKI akan mengolah pasar lokal dengan apik, itu mengingat potensialnya pasar ini.

 

Kini, angka per kapita konsumsi minum kopi masyarakat Tanah Air ini, masih sangat rendah, belum mencapai 1 kg per tahun per jiwa. Padahal, di belahan dunia lain, angka konsumsi kopi sudah sangat jauh lebih tinggi.

Lihatlah, di Negeri Paman Sam alias Amerika Serikat, angka itu di 5 kg sampai 10 kg per tahun per jiwa. Dus, untuk apa kita ngotot menembus ekspor sementara pasar di depan mata sangat besar?

 

Menutup perbincangan, ia menyatakan kalau beberapa tahun belakangan ini gerai kopi sudah tumbuh dan berkembang dengan baik. “Ini merupakan pertanda bahwa masyarakat semakin mencintai kopi, apalagi kita memberikan kopi dengan kualitas nomor satu atau KW1,” kata entrepreneur muda yang diakui di tingkat Asia-Pasifik ini. (Alb)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s