Posted on Updated on

Marilah Mendambakan “Filosofi Puzzle”

Oleh Achmad Adhito
Oleh Achmad Adhito

 

Tahu permainan puzzle, bukan? Itu biasanya dimainkan oleh anak dan keponakan kita. Atau kalau di antara kita ada yang berprofesi sebagai guru di PAUD (pendidikan anak usia dini), tentu puzzle bukan barang asing.

Hari ini, penulis berpikir bahwa kita semua perlu belajar banyak dari permainan tersebut. Dan ingat, ini berlaku dalam semua tingkat organisasi. Sedari organisasi di sekolah, kampus, bisnis kecil ataupun besar. Bahkan, bisa kita katakan bahwa organisasi politik di Tanah Air tercinta ini, perlu belajar “filosofi puzzle” itu.

Persisnya bagaimana? Baiklah, kita bahas sekarang. Sederhana, kok, sebenarnya. Amatilah tiap kepingan puzzle di depan Anda. Adakah yang sama persis? Anak di PAUD pasti menjawab 100% yakin dengan nada riang:  “Tidak….” Tetapi, cermatilah bahwa keterampilan sang anak—ataupun orang dewasa, bila mau—bisa menyatukan kepingan-kepingan berbeda menjadi satu gambar utuh nan apik. Bayangkan, sejumlah kepingan yang saling berbeda, menjadi gambar apik. Tiap keping ternyata punya potensi tersendiri.

Nah, di situlah lahirnya “filosofi puzzle” buat kita semua. Kita perhatikan, di sebuah organisasi bisnis tertentu, adakah personal yang berkemampuan atau juga berkarakter sama 100%? Jawabnya jelas:  “Tidak.”  Bahkan dua orang arsitek yang berangkat dari kampus yang sama, lulus dengan indeks prestasi yang sama, dan lama berkarir di perusahaan konsultan yang sama, tidak mungkin sama persis 100%. Bukankah kemampuan mereka setaraf dan jabatannya sejajar? Benar, tetapi sangat mungkin arsitek A lebih kuat di bidang X, sedangkan arsitek B di bidang Y. Pula, arsitek A sangat menonjol di kecerdasan visual sedangkan arsitek B di kecerdasan lainnya; begitulah sejatinya.

Ilustrasi tersebut bisa Anda tarik ke bidang masing-masing. Andaikanlah bahwa Anda petinggi puncak dan konsultan kehumasan yang jempolan membuat konsep kampanye sebuah merek dagang baru. Anda jawara dalam hal itu. Tetapi, ketika pikiran Anda banyak tercurah 24 jam untuk memikirkan konsep itu sementara tenggat mulainya kampanye promosi sudah dekat, mungkinkan Anda sekaligus memikirkan rencana aksi nan efektif dan tepat sasaran? Jawabannya sangat mungkin sebagai berikut: “Tidak.’ Pasti Anda punya tangan kanan yang sudah terlatih menggulirkan aksi nan efektif dan tepat sasaran tersebut. Tangan kanan tersebut memang spesialisasinya di bidang itu.

Setiap personal dalam wadah organisasi apapun, adalah kepingan puzzle. Setiap kepingan itu berkemampuan tersendiri. Dan mesti terintegrasi untuk terbentuknya sebuah gambar utuh nan memikat.

Idealnya, ya seperti itu. Tapi kenyataan sehari-hari? Kita semua, sangat mungkin, mengalami suatu distorsi besar terhadap “filosofi puzzle” itu. Tiap puzzle merasa paling bernilai. Tiap puzzle menganggap bahwa dirinyalah gambar utuh yang sudah ada, tidak memerlukan kepingan lainnya untuk gambar tersebut.

Drama puzzle yang tercerai-berai terjadi. Ini sebuah ironi. Semua, sedari petinggi sampai bawahan, tanpa sadar berlomba meraibkan “filosofi puzzle tersebut”. Sang petinggi menjalankan komunikasi dan interaksi satu arah. Adapun jajaran bawahan, karena berhati mengkal akibat sekadar dianggap robot, berkiprah setengah hati, atau malah menjalankan agendanya sendiri yang menurutnya lebih baik. Maka dari itu, lambat laun bersalinrupalah “filosofi puzzle” menjadi wadah pertarungan politik organisasi. Hal ini, menurut hemat penulis, sangat mudah berjangkit di segala bidang. Sedari ranah korporasi, ranah pemerintahan, ranah partai politik, dan lain-lain.

Dengan semua itu, cukup mustahil bahwa sebuah gambar apik yang tersusun dari kepingan puzzle nan saling berbeda, terjadi dengan cepat. Paling-paling, gambar itu hanya setengah jadi, seperempat jadi, atau malah sepertiga jadi. Tapi herannya, kita semua merasa bahwa sebuah gambar nan apik telah tersaji. Itulah ironi.

Maka marilah kita benar-benar meresapkan “filosofi puzzle” itu dalam segala hal. Sedari di korporasi, lembaga sosial, lembaga politik, lembaga pemerintahan, dan lain-lain, sangat baik untuk menggulirkan filosofi sederhana tersebut. Bukan bermaksud menafikan personal lainnya, memang kunci untuk terkonstruksinya filosofi itu, ada di tangan para petinggi sebuah organisasi. Manakala kemauan menjalankan “filosofi puzzle” bergulir dari atas, bukanlah segalanya terasa lebih mudah?  Bukankah menggelindingkan bola dari atas ke bawah, lebih mudah ketimbang dari bawah ke atas?

*Achmad Adhito, adalah kolumnis real estat sekaligus jurnalis di bidang tersebut. Tulisan ini adalah pendapat pribadi penulis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s